Minggu, 09 Oktober 2011

MANUSIA DAN BUDAYA 6


BAHASA INDONESIA SEBAGAI BAHASA PENGANTAR

Bahasa Indonesia adalah bahasa resmi Republik Indonesia[1] dan bahasa persatuan bangsa Indonesia.[2] Bahasa Indonesia diresmikan penggunaannya setelah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia, tepatnya sehari sesudahnya, bersamaan dengan mulai berlakunya konstitusi. Di Timor Leste, bahasa Indonesia berstatus sebagai bahasa kerja.
Meskipun dipahami dan dituturkan oleh lebih dari 90% warga Indonesia, Bahasa Indonesia bukanlah bahasa ibu bagi kebanyakan penuturnya. Sebagian besar warga Indonesia menggunakan salah satu dari 748 bahasa yang ada di Indonesia sebagai bahasa ibu.[6] Penutur Bahasa Indonesia kerap kali menggunakan versi sehari-hari (kolokial) dan/atau mencampuradukkan dengan dialek Melayu lainnya atau bahasa ibunya. Meskipun demikian, Bahasa Indonesia digunakan sangat luas di perguruan-perguruan, di media massa, sastra, perangkat lunak, surat-menyurat resmi, dan berbagai forum publik lainnya,[7] sehingga dapatlah dikatakan bahwa Bahasa Indonesia digunakan oleh semua warga Indonesia.
Jadi,bahasa Indonesia merupakan bahasa yang digunakan oleh penduduk yang menempati beberapada daerah yang menjadi kepulauan yang ada diIndonesia ini meskipun berbeda macam bahasa daerah yang digunakan oleh setiap suku seperti batak,jawa,manado dan lain-lain.Bahasa Indonesia sebagai bahasa pengantar yang sangat penting dalam setiap berkomunikasi antara satu sama lain.
Akan tetapi,masih banyak orang Indonesia masih menggunakan bahasa inggris sebagai bahasa yang lagi mengglobal dimasa sekarang ini sehingga bahasa Indonesia menjadi bahasa yang tidak lazim untuk digunakan dalam setiap berkomunikasi atau berbicara.Maka dari itu,bahasa Indonesia harus tetap dipertahankan oleh setiap warga Negara Indonesia demi mempertahankan keutuhan dalam berbangsa dan bernegara supaya tidak terjadi Negara yang mudah terpecah akibat dari bahasa yang telah digunakan dalam kehidupan sehari-hari menjadi bahasa yang tidak relevan.

MANUSIA DAN BUDAYA 5


BUDAYA KEMACETAN LALU LINTAS MENINGKAT.
Kemacetan adalah situasi atau keadaan tersendatnya atau bahkan terhentinya lalu lintas yang disebabkan oleh banyaknya jumlah kendaraan melebihi kapasitas jalan. Kemacetan banyak terjadi di kota-kota besar, terutamanya yang tidak mempunyai transportasi publik yang baik atau memadai ataupun juga tidak seimbangnya kebutuhan jalan dengan kepadatan penduduk, misalnya Jakarta dan Bangkok.
Kemacetan lalu lintas menjadi permasalahan sehari-hari di Jakarta, Surabaya, Bandung, Medan dan kota-kota besar lainnya di Indonesia.
Penyebab kemacetan
Kemacetan dapat terjadi karena beberapa alasan:
  • Arus yang melewati jalan telah melampaui kapasitas jalan
  • Terjadi kecelakaan lalu-lintas sehingga terjadi gangguan kelancaran karena masyarakat yang menonton kejadian kecelakaan atau karena kendaran yang terlibat kecelakaan belum disingkirkan dari jalur lalu lintas,
  • Terjadi banjir sehingga kendaraan memperlambat kendaraan
  • Ada perbaikan jalan,
  • Bagian jalan tertentu yang longsor,
  • kemacetan lalu lintas yang disebabkan kepanikan seperti kalau terjadi isyarat sirene
Kemacetan sudah banyak terjadi disetiap tempat termasuk dikota-kota besar seperti Jakarta,bandung,dan depok,maka pemerintah harus berperan andil dalam menanggulangi terjadinya kemacetan dijalan raya supaya tidak terjadi kemacetan yang sangat panjang.Adapun langkah-langkah yang harus dilakukan oleh pemerintah dalam mencegah terjadinya kemacetan,yaitu:
1.Menggunakan marka jalan.
2.Mengurangi produksi barang angkut.contohnya mobil dan motor
3.Membuat rambu-rambu lalu lintas dengan baik dan benar supaya pengguna jalan dapat mematuhi tata tertib dijalan


TRADISI ADAT JAWA.




Bathara NaradaNarada  atau Narada Muni adalah seseorang yang bijaksana dalam tradisi Hindu, yang memegang peranan penting dalam kisah-kisah Purana, khususnya Bhagawatapurana. Narada digambarkan sebagai pendeta yang suka mengembara dan memiliki kemampuan untuk mengunjungi planet-planet dan dunia yang jauh. Ia selalu membawa alat musik yang dikenal sebagai vina, yang pada mulanya dipakai oleh Narada untuk mengantarkan lagu pujian, doa-doa, dan mantra-mantra sebagai rasa bakti terhadap Dewa Wisnu atau Kresna.
Dalam tradisi Waisnawa ia memiliki rasa hormat yang istimewa dalam menyanyikan nama Hari dan Narayana dan proses pelayanan didasari rasa bakti yang diperlihatkannya, dikenal sebagai bhakti yoga seperti yang dijelaskan dalam kitab yang merujuk kepadanya, yang dikenal sebagai Narad Bhakti Sutra.
Putra Dewa Brahma
Menurut legenda, Narada dipandang sebagai Manasputra, merujuk kepada kelahirannya ‘dari pikiran Dewa Brahma’, atau makhluk hidup pertama seperti yang digambarkan dalam alam semesta menurut Purana. Ia dihormati sebagai Triloka sanchaari, atau pengembara sejati yang mengarungi tiga dunia yaitu Swargaloka (surga), Mrityuloka (bumi) dan Patalloka (alam bawah). Ia melakukannya untuk menemukan sesuatu mengenai kehidupan dan kemakmuran orang. Ia orang pertama yang melakukan Natya Yoga. Ia juga dikenal sebagai Kalahapriya.
Narada Muni memiliki posisi penting yang istimewa di antara tradisi Waisnawa. Dalam kitab-kitab Purana, ia termasuk salah satu dari dua belas Mahajana, atau ‘pemuja besar’ Dewa Wisnu. Karena ia adalah gandharva dalam kehidupan dahulu sebelum ia menjadi Resi, ia berada dalam kategori Dewaresi.
Pencerahan
Bhagawata Purana menceritakan pencerahan spiritual yang dialami Narada: Dalam kehidupannya yang dulu, Narada adalah gandharva (sejenis malaikat) yang dikutuk agar lahir di planet bumi karena melanggar sesuatu. Maka ia kemudian lahir sebagai putera seorang pelayan yang khusus melayani pendeta suci (brahmin). Para pendeta yang berkenan dengan pelayanan Narada dan ibunya, memberkahinya dengan mengizinkannya memakan sisa makanan mereka (prasad) yang sebelumnya dipersembahkan kepada dewa mereka, yaitu Wisnu.
Perlahan-lahan Narada menerima berkah dan berkah lagi dari para pendeta tersebut, dan mendengarkan mereka memperbincangkan banyak topik mengenai spiritual. Lalu pada suatu hari, ibunya meninggal karena digigit ular, dan karena menganggap itu adalah perbuatan Dewa (Wisnu), ia memutuskan untuk pergi ke hutan demi mencari pencerahan agar memahami ‘Kebenaran yang paling mutlak’.
Ketika di dalam hutan, Narada menemukan tempat yang tenang, dan setelah melepaskan dahaga dari sungai terdekat, ia duduk di bawah pohon dan bermeditasi (yoga), berkonsentrasi kepada wujud paramatma Wisnu di dalam hatinya, seperti yang pernah diajarkan oleh para pendeta yang pernah dilayaninya. Setelah beberapa lama, Narada melihat sebuah penampakan, dimana Narayana (Wisnu) muncul di depannya, tersenyum, dan berkata bahwa ‘meskipun ia memiliki anugerah untuk melihat wujud tersebut pada saat itu juga, Narada tidak akan dapat melihat wujudnya (Wisnu) lagi sampai ia mati’. Narayana kemudian menjelaskan bahwa kesempatan yang diberikan agar Narada dapat melihat wujudnya disebabkan oleh keindahan dan rasa cintanya, dan akan menjadi sumber inspirasi dan membakar keinginannya yang terlelap untuk bersama sang dewa lagi. Setelah memberi tahu Narada dengan cara tersebut, Wisnu kemudian menghilang dari pandangannya. Narada bangun dari meditasinya dengan terharu sekaligus kecewa.

Resi Narada terbang menuju planet Dewa-Dewi yang jauh.
(Sumber: Krishna.com)
Selama sisa hidupnya Narada memusatkan rasa baktinya, bermeditasi, dan menyembah Wisnu. Setelah kematiannya, Wisnu menganugerahinya dengan wujud spiritual "Narada", yang kemudian dikenal banyak orang. Dalam beberapa susastra Hindu, Narada dianggap sebagai penjelmaan (awatara) dewa, dan berkuasa untuk melakukan tugas-tugas yang ajaib atas nama Wisnu.
Narada dalam budaya Jawa
Batara Narada ialah batara pengadil dan penyampai berita ke Pandawa. Batara Narada tadinya bernama Kanekaputra. Saat ia itu ia masih berupa Dewa yang bagus rupanya. Untuk mengejar kesaktiannya, maka Kanekaputra bersemadi di tengah samudera dengan tidak bergerak-gerak. Oleh Batara Guru hal ini dianggapnya sebagai usaha Kanekaputra untuk menguasai Suryalaya. Maka diperintahkannya semua dewa untuk menyerang Kanekaputra dengan segala macam senjata agar gagallah semadinya. Namun Kanekaputra tetap pada semadinya, dan tetap tidak bergerak. Akhirnya Batara Guru sendiri pergi ke hadapan Kanekaputra, dan terjadilah bantah-membantah antara keduanya. Dalam hal ini, Batara Guru keluar sebagai pihak yang kalah-bantah. Maka untuk seterusnya Batara Guru memanggil Kanekaputra dengan kakang, kanda, karena merasa lebih muda.
Suatu ketika amat murkalah Batara Guru, hingga dikutuknya Kanekaputra sehingga berwuju seperti sekarang, kemudian ia dipanggil dengan Narada.

MANUSIA DAN BUDAYA 1

BUDAYA BARAT DAN BUDAYA TIMUR.

   Perbedaan budaya barat dan budaya timur merupakan suatu kultur yang harus kita pelajari dari berbagai segala aspek-aspek yang muncul dalam kehidupan sehari-hari.Banyak masyarakat yang menilai bahwa suatu perbedaan dianggap menjadi masalah yang besar,dan selalu menjadi bahan perbincangan disetiap bermasyarakat.Akan tetapi,mayoritas budaya timur masih selalu meniru kehidupan sehari-hari yang selalu muncul dikebudayaan barat yang gaya hidupnya selalu bebas seperti cara berpakaiannya,free sex,dsb.Sedangkan budaya timur itu jauh berbeda dan tidak identik dengan apa yang telah muncul pada budaya barat yang saat ini mengalami tingkat globalisasi yang sangat meningkat dalam jangka waktu yang panjang.Dan budaya yang ada dimasyarakat kita masih cenderung sopan dibandingkan gaya hidup budaya barat yang sudah kita pelajari sebelumnya baik dari segala aspek yang positif maupun negatifnya.